Cara Rusia Bangkitkan Industri Penerbangan Strategis

Setelah pembubaran Uni Soviet, Rusia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan industri penerbangannya. Pabrik di Tashkent, Uzbekistan, yang sebelumnya menjadi pusat produksi pesawat angkut berat Il-76, berhenti beroperasi, meninggalkan kekosongan besar dalam kapasitas manufaktur strategis Rusia. Keputusan untuk membangun kembali industri ini menjadi langkah penting bagi kedaulatan pertahanan Rusia.

Langkah pertama Rusia adalah penetapan lokasi baru di Ulyanovsk. Alih-alih memindahkan lini produksi lama, Rusia membangun fasilitas baru di Avia Star, Ulyanovsk, sebagai pusat produksi Il-76. Strategi ini memastikan bahwa seluruh rantai produksi berada di bawah kendali nasional tanpa ketergantungan pada fasilitas bekas Soviet.

Proses membangun kembali produksi dimulai dari nol. Dengan rantai pasokan era Soviet terputus, Rusia harus mencari dan membentuk jaringan pemasok domestik baru untuk menggantikan komponen yang sebelumnya diimpor. Pendekatan ini menuntut koordinasi antara industri pertahanan, manufaktur, dan sektor teknologi.

Selain rantai pasokan, Rusia menghadapi tantangan dokumentasi dan peralatan manufaktur. Dokumentasi produksi yang hilang dan alat-alat yang sudah tua harus dibuat ulang atau diperbarui. Hal ini memerlukan investasi besar dalam rekayasa ulang proses dan standardisasi manufaktur.

Aspek penting lainnya adalah tenaga kerja. Puluhan tahun kapasitas industri tidak dimanfaatkan secara maksimal, sehingga Rusia harus melatih kembali insinyur, teknisi, dan tenaga ahli. Pendidikan dan pelatihan teknis menjadi bagian integral dari strategi pemulihan ini.

Rusia tidak hanya memproduksi ulang Il-76 lama, tetapi juga melakukan modernisasi desain. Varian baru, Il-76 MD-90A, diperkenalkan dengan mesin PS-90A76 yang lebih efisien dan bertenaga. Perubahan ini meningkatkan kapasitas muatan dan efisiensi bahan bakar pesawat.

Desain sayap dan struktur pesawat juga diperkuat. Kapasitas muatan meningkat dari 40 ton menjadi 60 ton, memungkinkan Il-76 MD-90A untuk mengangkut lebih banyak kargo strategis. Ini menjadi indikator kemampuan Rusia dalam merancang ulang pesawat sesuai kebutuhan modern.

Avionik pesawat mengalami transformasi digital. Sistem navigasi, komunikasi, dan kontrol penerbangan analog digantikan dengan sistem modern. Hal ini meningkatkan keselamatan penerbangan, efektivitas misi, dan integrasi teknologi militer canggih.

Pabrik di Ulyanovsk mengadopsi metode produksi modern. Lini perakitan aliran (flowline assembly) mempercepat proses perakitan dibanding metode stasioner tradisional. Hal ini mengoptimalkan waktu produksi dan mengurangi biaya.

Otomatisasi menjadi kunci efisiensi. Stasiun robotik dan sistem pengukuran presisi digunakan untuk menjaga kualitas produksi. Teknologi ini memungkinkan Rusia mempertahankan standar tinggi dalam manufaktur pesawat strategis.

Skala produksi dilakukan secara bertahap. Awalnya, produksi pesawat hanya 1-2 unit per tahun, bahkan sempat nol pada 2016-2017. Namun, strategi ini memungkinkan kontrol kualitas dan pelatihan tenaga kerja berjalan seiring produksi.

Pada tahun 2025, Rusia berhasil memproduksi tujuh pesawat Il-76 MD-90A. Jumlah ini menandai stabilisasi produksi dan menunjukkan kemampuan industri Rusia bangkit kembali dari nol.

Target produksi masa depan ditetapkan 12 pesawat per tahun pada 2027. Ambisi jangka panjang mencakup 18-24 unit per tahun jika permintaan ekspor meningkat, menegaskan fokus Rusia pada kemandirian industri dan potensi pasar global.

Proses ini menjadi simbol kebangkitan industri kedirgantaraan Rusia. Mampu beradaptasi dan membangun kapasitas strategis di bawah kondisi sulit menunjukkan tekad negara mempertahankan kedaulatan teknologinya.

Pelajaran bagi Indonesia terlihat jelas. Ketika N250 dan N2130 gagal dikembangkan atau dipertahankan, Indonesia kehilangan momentum dalam industri penerbangan domestik dan ketergantungan pada teknologi asing menjadi nyata.

Kasus Rusia menunjukkan pentingnya kedaulatan atas fasilitas, rantai pasokan, dan tenaga kerja. Tanpa kontrol penuh atas produksi strategis, negara rentan kehilangan kemampuan kritis dalam jangka panjang.

Investasi pada modernisasi desain dan teknologi digital juga menjadi pelajaran penting. Produksi ulang tanpa inovasi tidak cukup untuk menjaga relevansi industri di era modern.

Kesiapan tenaga kerja adalah faktor kunci. Pendidikan dan pelatihan teknis harus berjalan seiring pembangunan fasilitas manufaktur, agar kemampuan tidak hilang di tengah perubahan generasi.

Rusia juga membuktikan pentingnya alokasi anggaran dan perencanaan jangka panjang. Skala produksi bertahap memungkinkan negara mengatur risiko sambil memastikan kapasitas produksi meningkat secara konsisten.

Akhirnya, pengalaman Rusia menegaskan bahwa mempertahankan industri strategis memerlukan integrasi antara politik, ekonomi, teknologi, dan sumber daya manusia. Indonesia bisa mengambil pelajaran penting agar proyek pesawat domestik masa depan tidak mengalami kehilangan kapabilitas serupa.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Beranda