Skala Koordinasi Penanganan Bencana Aceh, Sumut dan Sumbar Melebihi Pulau Jawa

item-thumbnail

Skala koordinasi penanganan bencana di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kini menjadi sorotan nasional. Meski jumlah penduduk ketiga provinsi tersebut jauh lebih sedikit dibanding Pulau Jawa, kompleksitas wilayah dan medan membuat jangkauan koordinasinya dinilai melampaui seluruh Jawa.

Rentetan bencana alam yang terjadi hampir bersamaan di Aceh-Sumut-Sumbar memaksa pemerintah pusat dan daerah bekerja dalam ruang kendali yang sangat luas. Koordinasi tidak hanya lintas kabupaten dan kota, tetapi juga lintas provinsi dengan karakter wilayah yang sangat berbeda.

Secara geografis, wilayah Aceh hingga Sumatra Barat membentang memanjang di sisi barat Pulau Sumatra. Jarak antar titik bencana bisa mencapai ratusan kilometer, dengan kondisi alam yang tidak selalu memungkinkan akses cepat melalui jalur darat.

Berbeda dengan Pulau Jawa yang relatif padat dan saling terhubung, wilayah ini memiliki banyak daerah terpencil yang terpisah oleh pegunungan, lembah, dan kawasan hutan. Ketika satu ruas jalan terputus, wilayah di belakangnya dapat terisolasi total.

Topografi menjadi tantangan utama dalam koordinasi lapangan. Pegunungan Barisan yang membujur dari Aceh hingga Sumatra Barat menciptakan jalur sempit, lereng curam, dan kawasan rawan longsor yang menyulitkan pergerakan personel dan logistik.

Di banyak daerah, desa-desa hanya memiliki satu akses jalan utama. Ketika jalan tersebut tertutup material longsor atau banjir bandang, jalur evakuasi dan distribusi bantuan pun lumpuh dalam waktu lama.

Akses antarprovinsi juga tidak semulus di Jawa. Jalur Aceh menuju Sumatra Utara dan Sumatra Barat belum ditopang jaringan jalan berstandar tinggi seperti jalan tol yang terhubung langsung dari ujung ke ujung.

Kerusakan jalan, jembatan tunggal, serta medan berat membuat distribusi logistik berjalan lambat. Dalam kondisi tertentu, satu titik longsor saja dapat memutus hubungan antarprovinsi selama berjam-jam bahkan berhari-hari.

Sebaran bencana yang tidak merata menambah beban koordinasi. Di saat satu wilayah dilanda banjir besar, wilayah lain menghadapi longsor, sementara daerah pesisir mengalami banjir bandang atau abrasi.

Situasi ini memaksa BNPB dan BPBD mengelola berbagai jenis bencana sekaligus dalam satu waktu. Konsentrasi alat berat dan personel tidak bisa difokuskan di satu lokasi seperti yang sering dilakukan di Jawa.

Komando lapangan harus berpindah-pindah antar kabupaten dan provinsi. Setiap daerah membutuhkan pendekatan berbeda sesuai jenis bencana dan kondisi geografis setempat.

Di sejumlah wilayah, akses darat bahkan tidak memungkinkan sama sekali. Daerah pedalaman Aceh, Pegunungan Gayo, Tapanuli, Mentawai, hingga pesisir barat Sumatra Utara kerap hanya bisa dijangkau melalui udara atau laut.

Dalam kondisi darurat, helikopter dan kapal laut menjadi tulang punggung koordinasi dan distribusi bantuan. Hal ini membuat operasi penanganan jauh lebih kompleks dan mahal dibandingkan operasi darat.

Kendala komunikasi juga menjadi persoalan serius. Banyak titik bencana mengalami pemadaman listrik, runtuhnya BTS, dan hilangnya sinyal seluler dalam waktu lama.

Komunikasi satelit menjadi solusi, namun jumlahnya terbatas dan tidak selalu tersedia untuk seluruh wilayah terdampak. Akibatnya, arus informasi dari lapangan ke pusat komando sering terlambat.

Kondisi ini sangat kontras dengan Pulau Jawa yang memiliki infrastruktur komunikasi relatif merata dan cadangan jaringan yang lebih siap. Di Jawa, koordinasi antarwilayah dapat dilakukan dengan lebih cepat dan stabil.

Meski demikian, tantangan besar ini justru menunjukkan kapasitas koordinasi negara diuji pada skala yang lebih luas. Penanganan bencana Aceh-Sumut-Sumbar menuntut kerja terpadu lintas kementerian, TNI, Polri, relawan, dan pemerintah daerah.

Koordinasi tidak hanya bersifat vertikal dari pusat ke daerah, tetapi juga horizontal antarprovinsi yang memiliki kebutuhan dan kondisi lapangan berbeda-beda.

Dalam konteks ini, jangkauan koordinasi bencana di Aceh-Sumut-Sumbar kerap disamakan dengan penanganan bencana di satu pulau besar. Bahkan, sejumlah pihak menilai tingkat kesulitannya melebihi Jawa.

Wilayah yang panjang, akses terbatas, topografi ekstrem, dan komunikasi minim menjadi faktor utama yang memperberat operasi. Tantangan ini menjadikan penanganan bencana di barat Sumatra sebagai salah satu ujian terbesar bagi sistem kebencanaan nasional.

Skala koordinasi yang melampaui Pulau Jawa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana di Indonesia tidak bisa diseragamkan. Setiap wilayah membutuhkan pendekatan berbeda, sesuai karakter alam dan infrastrukturnya.

Baca selanjutnya

Baca selengkapnya »

Rumah Tahfiz Mentawai, Cahaya Islam di Siberut

item-thumbnail

Langkah besar tengah diambil oleh Yayasan Dar el-Iman bersama Yayasan Sosial, Dakwah dan Pendidikan Mentawai dalam upaya memperkuat dakwah di daerah minoritas muslim, tepatnya di Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai. Rencana pembangunan Rumah Tahfidz di Dusun Muara, Desa Muara Siberut, menjadi simbol kebangkitan dan penguatan akidah umat Islam di daerah yang dikenal sebagai "Bumi Sikerei".

Meski Islam telah lama hadir di Mentawai Sumatera Barat, namun pembangunan masyarakat lambat terjadi. Meski begitu, di Dusun Muara, komunitas muslim tumbuh dan menunjukkan semangat luar biasa dalam mempertahankan identitas keislaman mereka. Keberadaan pasar Muara sebagai pusat ekonomi menjadikan kawasan ini vital dan strategis untuk pengembangan pusat pembinaan keagamaan.

Perencanaan pembangunan Rumah Tahfidz ini didukung oleh tanah wakaf seluas 800 meter persegi dari masyarakat setempat. Rumah Tahfidz ini dirancang dua lantai, dengan lantai pertama berbahan beton dan lantai dua dari kayu. Diperuntukkan sebagai tempat tinggal santri, ruang belajar, serta fasilitas tamu, bangunan ini membutuhkan anggaran sebesar Rp1,4 miliar.

Jarak rumah tahfidz yang hanya sekitar 1,7 km dari Islamic Center Syaikh Sholeh Ar Rajihi di Meilepet menunjukkan potensi sinergi antar lembaga dakwah. Islamic Center yang telah membina anak-anak muallaf secara gratis dari tingkat SD hingga SLTA itu menjadi teladan keberhasilan pendidikan Islam di kawasan tersebut.

Buya Muhammad Elvi Syam, ketua kedua yayasan penggagas, menyampaikan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari misi besar mendirikan 1.000 masjid dan rumah tahfidz di seluruh nusantara, khususnya di wilayah pelosok dan pedalaman. Mentawai menjadi titik penting karena statusnya sebagai satu-satunya kabupaten mayoritas Kristen di Sumatera Barat.

Masyarakat muslim di Mentawai, khususnya di Siberut, menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan akidah dan mendidik generasi muda. Minimnya lembaga pendidikan Islam menjadi alasan kuat dibalik urgensi pembangunan Rumah Tahfidz. Anak-anak muallaf yang tumbuh di lingkungan mayoritas non-muslim membutuhkan bimbingan intensif agar tetap teguh dalam keimanan.

Dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari donatur nasional hingga masyarakat lokal, harapan besar ditanamkan pada proyek ini untuk mencetak hafiz-hafizah yang mampu menjadi penerang dakwah Islam di wilayah pesisir yang jauh dari pusat peradaban. Buya Elvi Syam juga mengajak seluruh kaum muslimin untuk turut ambil bagian, baik dengan doa maupun donasi, demi kelangsungan pembangunan.

Pendekatan yayasan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan Islami yang sehat dan berkelanjutan. Diharapkan rumah tahfidz ini kelak menjadi pusat kegiatan Islami dan pengkaderan dai yang siap berdakwah di kawasan Mentawai maupun luar daerah.

Pembangunan rumah tahfidz di Mentawai juga bisa menjadi inspirasi bagi komunitas muslim lainnya di wilayah minoritas, seperti di Kalimantan, Papua, atau kepulauan terpencil di Indonesia Timur. Keberhasilan proyek ini akan membuktikan bahwa keterbatasan geografis dan status minoritas bukanlah penghalang untuk menegakkan syiar Islam.

Gerakan dakwah melalui pendidikan seperti ini jauh lebih berdampak daripada pendekatan seremonial. Melalui pendidikan tahfiz, generasi muda dibina secara karakter, ilmu, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Hal ini menjadi kebutuhan mutlak umat Islam yang hidup di tengah arus tantangan identitas.

Dalam konteks kebangsaan, pembangunan rumah tahfidz juga berkontribusi pada pemerataan akses pendidikan dan penguatan wawasan kebhinekaan. Rumah tahfidz bisa berfungsi sebagai jembatan harmoni antarumat di daerah dengan pluralitas tinggi, selama dijalankan dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Pemerintah daerah diharapkan mendukung inisiatif seperti ini, karena selain memperkaya peta pendidikan nonformal, kehadiran lembaga seperti rumah tahfidz juga menghidupkan aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat muslim lokal.

Sketsa pembangunan yang telah disusun menunjukkan keseriusan tim penggagas dalam merancang proyek ini secara profesional. Papan informasi dan master plan telah dipasang di lokasi, memberi sinyal bahwa ini bukan sekadar wacana, tetapi program nyata yang sudah mulai bergerak.

Dengan jaringan dan pengalaman panjang Yayasan Dar el-Iman dalam mengelola pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, kehadiran rumah tahfidz di Siberut diharapkan menjadi titik balik kebangkitan dakwah Mentawai.

Semangat wakaf dan gotong royong masyarakat setempat pun menjadi modal utama dalam menyukseskan proyek ini. Ini menunjukkan bahwa kesadaran umat akan pentingnya lembaga keislaman di tengah tantangan zaman semakin menguat.

Dalam skema besar kebangkitan Islam Indonesia, daerah seperti Mentawai tidak boleh tertinggal. Pusat-pusat pendidikan Islam perlu hadir tidak hanya di kota besar, tetapi juga di pesisir, pegunungan, dan pedalaman, termasuk di tengah masyarakat minoritas.

Buya Elvi menegaskan, dakwah di Mentawai bukan hanya tugas lembaga, tapi tanggung jawab kolektif umat Islam di seluruh Indonesia. Karena itulah, rumah tahfidz di Siberut bukan sekadar bangunan, melainkan benteng peradaban Islam yang harus dirawat bersama.

Ketika rumah tahfidz ini berdiri kelak, akan lahir anak-anak penghafal Al-Qur’an yang bukan hanya fasih bacaannya, tapi juga menjadi cahaya hidayah bagi tanah Mentawai. Mereka akan menjadi dai-dai tangguh, penjaga akidah dan pembawa rahmat bagi sekitarnya.

Dengan demikian, proyek ini bukan semata tentang infrastruktur, melainkan tentang masa depan. Masa depan umat Islam minoritas, masa depan pendidikan Islam pedalaman, dan masa depan dakwah Islam yang tidak mengenal batas geografis. Rumah Tahfidz Siberut adalah bukti nyata bahwa dakwah bisa tumbuh di mana pun cahaya iman menyala.

Baca selengkapnya »

Jejak Pagaruyung di Penang: Dato' Jenaton, Sang Pemberani, dan Hadiah Sultan Kedah

item-thumbnail
Pulau Penang, permata di Selat Malaka, menyimpan kisah heroik seorang tokoh dari Pagaruyung, Dato' Jenaton. Namanya terukir dalam sejarah sebagai pendiri pemukiman pertama di pulau yang kini menjadi salah satu pusat ekonomi dan pariwisata Malaysia. Kisahnya bukan sekadar legenda, tetapi juga bukti nyata hubungan erat antara Minangkabau dan Semenanjung Malaya.

Dato' Jenaton, seorang pemberani dan bijaksana, datang dari Pagaruyung, sebuah kerajaan Minangkabau yang terkenal dengan tradisi maritimnya. Kedatangannya ke Kedah bukan tanpa alasan. Saat itu, Kerajaan Kedah adalah salah satu kekuatan terbesar di Semenanjung Malaya, dan Dato' Jenaton datang untuk memberikan dukungan.

Peran Dato' Jenaton sangat krusial ketika Kerajaan Kedah menghadapi pemberontakan dari orang-orang Siam. Dengan keberanian dan strategi yang matang, Dato' Jenaton bersama pasukannya berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Kemenangan ini tidak hanya menyelamatkan Kedah, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai penguasa di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya, Sultan Kedah memberikan hadiah yang sangat istimewa kepada Dato' Jenaton, yaitu sebagian tanah di Pulau Penang. Hadiah ini bukan sekadar simbol, tetapi juga pengakuan atas kontribusi besar Dato' Jenaton dalam menjaga stabilitas dan keamanan Kedah.

Dato' Jenaton bersama pengikutnya kemudian mendirikan pemukiman pertama di Penang. Mereka membuka lahan, membangun rumah, dan memulai kehidupan baru di pulau yang subur ini.

Jejak-jejak pemukiman awal ini masih bisa ditemukan hingga kini, menjadi saksi bisu keberanian dan ketekunan Dato' Jenaton.

Keberadaan Dato' Jenaton di Penang juga mencerminkan hubungan sejarah yang panjang antara Minangkabau dan Semenanjung Malaya. Banyak tokoh-tokoh Minangkabau yang memberikan kontribusi besar dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di wilayah ini, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya.

Selain itu, sejarah Kerajaan Ayutthaya Siam juga memiliki keterkaitan dengan Kedah. Kerajaan Ayutthaya didirikan oleh bangsawan Kedah Pasai Ma, dan raja-rajanya memiliki nama-nama Islam khas Kedah selain nama Siam. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh kuat dari Kedah dalam pembentukan Kerajaan Ayutthaya.

Kisah Dato' Jenaton dan hubungannya dengan Kerajaan Kedah serta Ayutthaya Siam memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang sejarah Penang. Penang bukan hanya pulau dengan keindahan alam yang memukau, tetapi juga pulau dengan sejarah yang kaya dan beragam.

Jejak-jejak sejarah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengetahui lebih dalam tentang masa lalu Penang. Pemerintah Penang juga berupaya melestarikan situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan Dato' Jenaton dan tokoh-tokoh lainnya.
Kisah Dato' Jenaton juga memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk menghargai sejarah dan budaya.

Semangat kepahlawanan, keberanian, dan pengabdian Dato' Jenaton dapat menjadi contoh teladan dalam membangun bangsa dan negara.

Penang, dengan warisan sejarahnya yang kaya, terus berkembang menjadi pusat ekonomi dan pariwisata yang penting di Malaysia. Namun, di balik gemerlapnya kota modern, tersimpan kisah-kisah heroik para pendahulu yang telah membuka jalan bagi kemajuan Penang.

Dato' Jenaton adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang telah memberikan kontribusi besar bagi sejarah Penang. Jejaknya akan terus dikenang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Penang.

Kisah Dato' Jenaton juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga hubungan baik antarnegara dan antarbangsa. Kerjasama dan saling pengertian adalah kunci untuk menciptakan perdamaian dan kemajuan bersama.

Penang, dengan segala keunikan dan keindahannya, adalah bukti nyata dari keberagaman budaya dan sejarah. Pulau ini adalah tempat bertemunya berbagai etnis dan budaya, menciptakan harmoni yang indah.

Kisah Dato' Jenaton adalah bagian dari harmoni itu. Kisahnya adalah kisah tentang keberanian, pengabdian, dan persahabatan. Kisah yang layak untuk terus diceritakan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Baca selengkapnya »

Perbandingan Gaya Kepemimpinan: Dedy Mulyadi di Jawa Barat vs Ahmad Al Sharaa di Suriah

item-thumbnail


JAWA BARAT - SURIAH, Dua wilayah berbeda benua, berbeda budaya, dan berbeda sistem pemerintahan. Namun, menarik jika membandingkan tantangan yang dihadapi dua pemimpin di masing-masing tempat. Di Indonesia, Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi dihadapkan pada persoalan pelik, terutama soal sampah dan pelayanan publik. Di sisi lain, Presiden baru Suriah, Ahmad Al Sharaa, menghadapi tugas maha berat: membangun kembali negara yang hancur akibat perang panjang.

Populasi Jawa Barat pada 2025 diperkirakan mencapai lebih dari 50 juta jiwa, menjadikannya provinsi terpadat di Indonesia. Bandingkan dengan Suriah, yang populasinya pasca-konflik menurun tajam menjadi sekitar 18 juta jiwa. Secara angka, beban populasi yang harus dilayani Dedy Mulyadi jauh lebih besar dibanding Ahmad Al Sharaa.

Namun, bukan hanya soal jumlah penduduk. Tingkat kerumitan persoalan yang dihadapi juga harus dilihat dari perspektif sosial, ekonomi, dan politik. Gubernur Dedy Mulyadi menghadapi permasalahan lingkungan akut, terutama soal sampah, yang terus menumpuk di kota-kota besar seperti Bandung dan Bekasi. Protes warga sekitar TPA Sarimukti menjadi tekanan tersendiri, belum lagi minimnya kesadaran publik soal pengelolaan sampah.

Ahmad Al Sharaa di Suriah menghadapi tantangan yang berbeda namun tidak kalah rumit. Ia harus menangani negara yang infrastruktur fisiknya porak poranda, perekonomiannya lumpuh, dan masyarakatnya terbelah oleh konflik panjang. Selain itu, Suriah juga masih menjadi medan tarik-menarik kepentingan negara besar seperti Rusia, Iran, dan Amerika Serikat.

Stamina politik menjadi hal penting bagi kedua pemimpin. Dedy Mulyadi, yang dikenal dengan gaya blusukannya dan retorika yang tajam, harus bisa konsisten dalam mencari solusi jangka panjang bagi pengelolaan sampah, perumahan, dan transportasi publik. Tidak cukup hanya pidato dan wacana, Dedy harus mampu menggerakkan birokrasi dan merangkul masyarakat.

Sementara itu, Ahmad Al Sharaa, yang naik ke tampuk kekuasaan pasca transisi politik, harus memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan dari dalam dan luar negeri. Upaya rekonsiliasi nasional, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan ulang infrastruktur menjadi prioritas utama. Tanpa itu, Suriah bisa kembali terjebak dalam kekacauan.

Salah satu perbedaan mendasar adalah kondisi politik. Jawa Barat, bagian dari Indonesia yang demokratis, masih stabil secara politik, meski dinamika lokal kerap panas. Suriah, sebaliknya, baru keluar dari konflik berdarah, sehingga keamanan dan kestabilan politik masih rapuh.

Namun, keduanya memiliki satu kesamaan: butuh skenario kepemimpinan yang efektif. Untuk Dedy Mulyadi, skenario sukses adalah dengan mempercepat transformasi kebijakan lingkungan—termasuk membangun sistem daur ulang modern, memperkuat kerja sama antar kota/kabupaten, dan membangun budaya sadar sampah di masyarakat.

Bagi Ahmad Al Sharaa, skenario sukses lebih kompleks. Ia harus memprioritaskan rekonsiliasi politik nasional. Tanpa kesatuan, tidak akan ada pembangunan. Ia juga harus membangun kepercayaan rakyat melalui reformasi, serta memperkuat hubungan diplomatik untuk mendapatkan bantuan luar negeri.

Tingkat kerumitan masing-masing tugas sangat berbeda. Dedy Mulyadi menghadapi masalah yang "berisik" di media dan publik, namun relatif lebih bisa dikendalikan secara sistematis. Ahmad Al Sharaa menghadapi tantangan struktural dan historis, yang memerlukan waktu panjang dan diplomasi tingkat tinggi.

Secara administratif, Jawa Barat sudah memiliki sistem yang mapan. Ada DPRD, APBD, dan jaringan birokrasi yang cukup solid. Suriah justru mengalami kehancuran administratif. Banyak daerah yang belum sepenuhnya berada di bawah kontrol pemerintah pusat, dan masih ada sisa-sisa kelompok bersenjata.

Di sisi lain, kelebihan Ahmad Al Sharaa adalah ia bisa membentuk ulang sistem dari awal, sesuatu yang sulit dilakukan di Jawa Barat. Dedy Mulyadi harus bekerja dalam sistem yang sudah ada, dengan segala keterbatasannya. Perubahan radikal sulit dilakukan tanpa konsensus politik dan dukungan pusat.

Dalam hal komunikasi, Dedy Mulyadi unggul. Ia paham media sosial, sering turun ke lapangan, dan membangun narasi yang dekat dengan rakyat. Al Sharaa masih belum menunjukkan gaya komunikasi yang jelas, dan cenderung berhati-hati karena situasi politik yang sensitif.

Keberhasilan Dedy Mulyadi diukur dari perbaikan layanan publik, pengurangan sampah, dan penurunan angka kemiskinan di provinsinya. Keberhasilan Ahmad Al Sharaa diukur dari stabilitas nasional, pembangunan ulang, dan kembalinya pengungsi ke Suriah.

Jika keduanya mampu menjalankan skenario sukses mereka, maka Dedy Mulyadi akan dikenang sebagai gubernur yang berhasil mengubah wajah Jawa Barat menjadi provinsi hijau dan bersih. Ahmad Al Sharaa bisa tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang memulihkan kehormatan dan kedaulatan Suriah.

Tentu saja, jalan mereka masih panjang. Baik Dedy maupun Al Sharaa dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan tidak kehilangan arah. Kepemimpinan bukan hanya soal visi, tapi soal konsistensi dan keteguhan dalam menghadapi badai.

Akhirnya, publik akan menilai bukan dari janji-janji, tapi dari hasil nyata. Mampukah keduanya memenuhi harapan rakyat? Waktu yang akan menjawab.

Dibuat oleh AI

Baca selengkapnya »

Keturunan Tentara Salib Da Gama dari Portugis eks Andalusia yang Menjadi Muslim Kembali di Maumere, NTT

item-thumbnail
Vasco da Gama dikenal sebagai angkatan terakhir tentara salib yang dikenal sebagai pelaut. Istilah di Semenanjung Iberia atau Andalusia Islam dulu adalah pasukan inkuisisi atau rekonquesta.

Dia masih satu era dengan pelaut Portugis lainnya seperti Afonso de Albuquerque yang berasal dari bahasa Arab Abu al-Qurq dan Francisco de Almaida.

Vasco da Gama bahkan pernah bisa menyamar sebagi Muslim ketika ingin merayu Sultan di Mozambique.

Dia menjelajahi sebagian dunia dan sebagian besar melakukan perampokan kepada kapal-kapal laut jemaah haji dari negara dan kesultanan Islam termasuk dari Nusantara atau Indonesia sekarang.

Tapi tak ada yang menyangka bahwa fam Da Gama atau keluarga Da Gama kini banyak yang jadi Muslim.

Mereka kawin mawin dengan pelaut Bugis dan penduduk NTT dan menjadi Muslim sejak beratus-ratus tahun lalu.

Kini, komunitas Islam Da Gama banyak ditemukan di NTT.

Baca selengkapnya »

Intelektual Papua Dorong Pemerintahan @Jokowi Perkuat Kerjasama Ekonomi, Konektivitas dan Budaya Trans Melanesia Raya

item-thumbnail
Pemerintah Indonesia perlu memperkuat kebudayaan Melanesia melalui kerja sama budaya dengan negara-negara serumpun di kawasan Pasifik. Hal tersebut setidaknya diungkapkan sosok intelektual sekaligus orang asli Papua, James Modouw.

"Kerjasama di bidang pendidikan dan kebudayaan antarmasyarakat dari ras Melanesia di Indonesia dengan negara-negara kawasan Pasifik yaitu Papua Nugini, Fiji, Salomon Island, New Caledonia, dan Timor Leste harus terus digalakkan di bawah panji 'Culture brings values to education; Education shapes/sharpens society & culture'," katanya dikutip Antara, Senin (5/10/2020).

James yang sudah sangat lama menggeluti dunia pendidikan di Indonesia dan kebudayaan Melanesia, terus mendorong masyarakat Nusantara khususnya warga di Indonesia Bagian Timur, yang secara turun temurun mendiami lima provinsi di antaranya Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk melestarikan kebudayaan Melanesia.


Baca selengkapnya »

Eks Pengurus Partai Bulan Bintang Dirikan Kembali Partai Masyumi

item-thumbnail
Eks pengurus Partai Bulan Bintang kembali mendirikan partai politik.

Jika di momen sebelumnya mendirikan Gerindra (Fadli Zon), Partai Idaman (Rhoma Irama), Partai Pemersatu Bangsa (PPB) dan lain sebagainya, kini mantan pengurus PBB yang pro ke Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 mendirikan Partai Masyumi.

Sinyalemen akan mendirikan partai ini sudah telihat dengan pembentukan kaukus caleg dan pengurus pendukung PS-Sandi sejak masa kampanye Pilpres lalu.

Sebagaimana Gelora yang pecah dari PKS, tidak akan butuh waktu lama untuk membentuk kepengurusan sampai ke daerah karena menggunakan pecahan dari infrastruktur yang ada.

Walaupun begitu akan butuh waktu yang lama untuk membuktikan apakah Partai Masyumi yang baru berdiri ini berhak menyandang legasi Partai Masyumi di era kemerdekaan? Mengingat memori publik sudah faham bahwa Partai Bulan Bintang adalah pewaris sah hingga sekarang.

Baca selengkapnya »

Yusuf-Gus Riza Ungguli Lawannya dalam Polling Pilkada 2020

item-thumbnail
Memasuki hari ke-23, Polling TIMES Indonesia di Pilbup Banyuwangi, Cabup Cawabup Nomor Urut 1 giliran unggul. Duet Yusuf-Gus Riza (Yuriz), menang tipis dari pasangan Nomor Urut 2, Ipuk-Sugirah.

Dengan perolehan 50,31 persen dari total 2.568 peserta polling. Sedang Ipuk Fiestiandani-H Sugirah (Ipuk-Sugirah) diangka 49,69 persen.

Padahal, 3 hari yang lalu, Ipuk-Sugirah, berhasil memimpin. Memperoleh 51,74 persen dukungan dari total 2.236 voter. Dan Yuriz hanya 48,26 persen saja.

Ritme kejar-kejaran perolehan dukungan dalam polling, merupakan sinyal positif. Yang bisa diartikan bahwa kedua kandidat peserta Pilbup Banyuwangi, memiliki basis dukungan yang sama-sama kuat.

Ini juga artinya masyarakat memiliki kesadaran dan semangat tinggi untuk menempatkan Cabup Cawabup pilihannya tampil sebagai pemenang.

"Menjadi peserta polling juga bisa diartikan sebagai bentuk dan wujud kepedulian pemilih terhadap kandidat pilihannya. Bukti semangat untuk mencapai pemenangan," ucap Kabiro TIMES Banyuwangi (TIMES Indonesia Network), Syamsul Arifin, Sabtu (17/10/2020).

Militansi dukungan, lanjutnya, harus terus dipelihara dan digelorakan oleh Tim Pemenangan masing-masing pasangan.

Mengingat dalam Pilbup Banyuwangi kali ini, hanya terdapat pertarungan head to head. Yakni antara Cabup Cawabup Nomor Urut 1, Yusuf-Gus Riza (Yuriz) melawan pemilik Nomor Urut 2, Ipuk Fiestiandani-H Sugirah (Ipuk-Sugirah).

Baca selengkapnya »

Apakah Jika Nomenklatur Jabatan Sekda Kabupaten/Kota Diubah Menjadi Perdana Menteri/Chief Minister akan Buat Indonesia Maju?

item-thumbnail
Sejak adanya UU Otonomi Daerah maka secara politik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebenarnya sudah menganut sistem 'Quasi-Federalisme' dan gabungan presidensil dan parlementer.

Hal itu terlihat bahwa kabupaten dan kota telah memiliki hak otonomi yang lebih besar kecuali di daerah khusus seperti Jakarta, Aceh, Papua, Papua Barat dan Yogyakarta. (Baca selengkapnya)

Jika dilihat dari perbandingan politik, Indonesia kira-kira mirip dengan India yang setengah federal dan setengah lagi kesatuan.

Hanya saja otonomi di India terletak pada negara bagian atau state dipimpin oleh Chief Minister (Menteri Besar) sementara di Rusia, Australia dan lain sebagainya menggunakan istilah Prime Minister/Premier (Perdana Menteri).

Belakangan terdapat usulan agar pilkada atau pemilihan kepala daerah dihapuskan saja untuk menghemat anggaran dan tidak memberatkan keuangan pusat.

Hasil penghematan dapat dialihkan untuk BPJS, mengurangi pajak atau bahkan untuk membangun roket antariksa yang bisa membuat bangga Indonesia.


Jadi kelak hanya ada pemilu langsung untuk presiden (Pilpres), DPR pusat dan DPRD Kabupaten Kota yang sifatnya nasional.

Itupun masih bisa dilakukan efisiensi jika menggunakan sistem e-voting yang bisa diterapkan secara bertahap pada level pemilihan Ketua RT maupun Kepala Desa.

Menurut Julkifli Marbun, pemerhati politik nasional, jabatan Sekda di Kabupaten/Kota diubah saja namanya menjadi Perdana Menteri (Prime Minister) atau Menteri Besar (Chief Minister) yang ditunjuk oleh DPRD terpilih. Dengan demikian Kadis atau Kepala Dinas juga diubah menjadi Menteri Daerah.

DPRD dapat melakukan reshuffle jika dianggap 'kabinet daerah' tersebut tidak optimal bekerja.


Dengan demikian DPRD mempunyai target kerja yang nyata di daerahnya.

Walaupun terjadi perubahan nama, penghasilan dan tunjangan Sekda yang menjadi Perdana Menteri atau Chief Minister itu tetap karena disesuaikan dengan APBD masing-masing. Dan posisinya tetap PNS walau tidak lagi menjabat. Walau begitu teknokrat bisa diangkat menduduki posisi tersebut sebagai bagian dari birokrat.

Itu alternatif pertama. Alternatif kedua adalah posisi Walikota dan Bupati tetap ada dan dipilih dalam Pilkada sebagaimana biasanya.

Namun Bupati dan Walikota terpilih mengajukan calon Sekda yang akan menduduki sebagai Perdana Menteri atau Chief Minister atas persetujuan DPRD.

Alternatif kedua ini lebih moderat karena tidak langsung menghapus Pilkada Kabupaten dan Kota tapi cukup efisien mengurangi anggaran Pilkada.

Alternatif berikutnya adalah penghapusan perangkat provinsi termasuk DPRD Provinsi dan menghilangkan pilgub/pemilihan gubernur langsung.

Dengan menghilangkan perangkat provinsi, asetnya dikembalikan ke negara dalam hal ini pemerintaha pusat.

Sementara itu untuk pejabat gubernur dapat dirampingkan menjadi hanya wakil pemerintah pusat di daerah karena diangkat dan diganti oleh Presiden atau Kementerian Dalam Negeri.

Kira-kira seperti Dubes pusat di daerah dengan staf dan KRT tidak lebih dari dua puluh orang, jadi lebih hemat biaya.

Bisa saja dibuat sebuah wewenang kepada Bupati/Walikota jika masih ada atau Perdana Menteri daerah untuk memberikan mosi tidak percaya atau 'persona non grata' jika dirasa pejabat gubernur sebagai wakil pusat dianggap kurang layak. 

Presiden dapat menerima atau menolak usulan tersebut atau membuat mekanisme voting antar kepada daerah untuk mengganti pejabat gubernur tersebut.

Dengan demikian, selain untuk penghematan luar biasa anggaran pemerintah, perampingan ini juga dapat mengurangi potensi konflik khususnya untuk daerah yang masih memiliki bahaya 'politik pemekaran' karena posisi Gubernur tidak elit lagi.

Walau begitu jabatan gubernur masih dipandang perlu ada khususnya untuk mengkoordinasikan Polda dan Kodam (yang bisa saja tetap dipertahankan struktur dan fungsinya) dari hal-hal yang sifatnya ancaman negara seperti separatisme dan sabotase daerah dari ormas-ormas preman seperti bandar narkoba.

Gubernur juga masih menjadi wakil pemerintah pusat untuk seremonial dengan konsulat dan wewenang lainnya yang tidak dipegang oleh pemerintahan daerah.

Gubernur juga dapat melakukan koordinasi pembangunan antar 'perdana menteri' atau 'chief minister' Kabupaten Kota bersama Bupati dan Walikota jika masih ada.

Jika sistem ini diterapkan, Indonesia tetap menjadi negara kesatuan tapi dengan penerapan 'quasi federalisme' yang lebih baik. Karena bagaimanapun juga dengan adanya otonomi daerah quasi federalisme itu sudah tidak bisa dihindarkan namun tak perlu kembali ke sisten Republik Indonesia Serikat (RIS) yang pernah gagal dilakukan saat awal kemerdekaan.



Baca selengkapnya »

Mengenal Indonesian Agency for International Development (Indonesian AID)

item-thumbnail
Saat diresmikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada 18 Oktober 2019, Indonesia, untuk pertama kali dalam sejarah, memiliki lembaga pengelola dan penyalur dana negara untuk pemberian bantuan internasional.

Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional Indonesia (LDKPI) atau Indonesian Agency for International Development (Indonesian AID) ditujukan untuk "menyalurkan kerja sama teknik (pengembangan kapasitas), fisik, dan kemanusiaan bagi negara berkembang lain yang membutuhkan bantuan pemerintah RI, sesuai dengan target Sustainable Development Goals 2030," kata Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik-Kementerian Luar Negeri RI, Cecep Herawan, dalam sebuah pengarahan kepada jurnalis di Jakarta, Senin 21 Oktober 2019.

Indonesian AID dibentuk dengan payung hukum di bawah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 143 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI).

LDKPI menjadi lembaga yang bertugas mengelola dana kerja sama pembangunan internasional sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2019 tentang Tata Cara Pemberian Hibah kepada Pemerintah Asing atau Lembaga Asing.

Badan yang setara dengan USAID Amerika Serikat, JICA Jepang, dan AUSAID Australia itu digawangi oleh empat kementerian RI, yakni; Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Perencana Pembangunan Nasional/Bappenas, dan Kementerian Sekretariat Negara.

Nantinya, ketika LDKPI atau Indonesian AID 'beroperasi secara penuh pada 2021' mendatang, badan itu akan dipimpin oleh seorang Direktur Utama, dan dua direktur; Direktur Keuangan dan Umum, serta Direktur Investasi dan Penyaluran Dana. Lembaga itu juga akan memiliki pengawas keuangan internal atau 'Satuan Pemeriksaan Keuangan'.

'Bukan Barang Baru'

"Ini bukan barang baru," jelas Dirjen Cecep. "Pemerintah Indonesia telah sejak lama menyalurkan bantuan internasional kepada sejumlah negara berkembang yang membutuhkan, selaras dengan prinsip Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation)," lanjutnya.

"Tapi, sebelum adanya Indonesian AID, penyaluran bantuan dilaksanakan secara tersegmentasi dan mandiri berdasarkan kementerian yang memberikan. Misal, Kementerian Pertanian ingin memberikan bantuan teknik pemberdayaan kapasitas agrikultur di negara A. Maka mekanisme dan sumber pendanaannya secara mandiri dilakukan oleh instansi terkait," jelas diplomat Kementerian Luar Negeri itu.

"Selain tersegmentasi, model penyaluran bantuan ke luar negeri seperti itu sulit dimonitor, sehingga berpotensi kurang selaras dengan kebijakan luar negeri (foreign policy) pemerintah," jelasnya.

"Oleh karenanya, pembentukan LDKPI adalah demi menyatukan upaya penyaluran bantuan ke luar negeri dalam sebuah sistem satu atap dan tersentralisasi," lanjut Cecep.

Alasan lain dari pembentukan Indonesian AID adalah memangkas birokrasi pencairan dana bantuan internasional.

"Dalam kerangka bantuan kemanusiaan internasional misalnya, anggarannya ada di anggaran cadangan di Kemenkeu. Tapi proses pencairannya panjang dan berjenjang. Perlu ada usulan dari kementerian terkait ke presiden, disposisi presiden, pengalokasian di Kemenkeu, prosesnya lama."

"Misal; bencana alam di negara A terjadi hari ini, kemudian, datang keputusan politik RI untuk membantu. Namun, dalam model sistem yang dulu, proses realisasinya akan terhambat, pencairan dari anggaran cadangan Kemenkeu mungkin baru tahun depan setelah penganggaran RAPBN selanjutnya. Padahal, bencananya sudah tahun lalu," jelas Cecep.

"Dengan adanya sistem baru, akan jadi lebih mudah. Sumber anggarannya tidak lagi dari anggaran cadangan Kemenkeu, tapi di ambil langsung dari endowment fund LDKPI. Penyalurannya juga akan lebih cepat," lanjut Cecep.


2 dari 3 halaman
Endowment Fund LDKPI
Bendera Indonesia (Unsplash / stock photo) Perbesar
Bendera Indonesia (Unsplash / stock photo)
Endowment fund atau dana abadi adalah dana investasi yang didirikan oleh sebuah yayasan yang melakukan penarikan secara konsisten dari modal yang diinvestasikan. Modal dalam dana abadi umumnya digunakan untuk kebutuhan spesifik atau untuk memajukan proses operasi, yang didanai sepenuhnya oleh sumbangan yang dapat dideduksi bagi para donor.

Dana abadi biasanya terstruktur sehingga jumlah pokok yang diinvestasikan tetap utuh, sementara pendapatan investasi tersedia untuk pendanaan segera untuk digunakan secara efisien.

Dalam hal LDKPI atau Indonesian AID, endowment fund merupakan anggaran yang dialokasikan oleh empat kementerian pengelola; Kemlu RI, Kemenkeu RI, KemenPPN/Bappenas, dan Kemensesneg.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dana bantuan dalam Indonesian AID tersebut diatur di pos anggaran below the line atau model pembiayaan, sehingga penggunaannya tidak harus habis. Nilai anggaran yang telah dikeluarkan Pemerintah untuk Indonesian AID sebesar Rp 3 triliun, dengan perincian Rp 1 triliun untuk tahun pertama di 2018 dan Rp 2 triliun di 2019.

"Ini ditaruhnya di below the line kalau istilah teknisnya. Jadi dia tidak harus habis, bahkan mungkin bisa jadi dana abadi," kata Sri Mulyani saat peresmian LDKPI di Kementerian Luar Negeri RI pada 18 Oktober 2019 lalu, seperti dikutip dari Antara.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri RI menargetkan, pada saat LDKPI atau Indonesian AID 'beroperasi secara penuh pada 2021' mendatang, lembaga itu akan memiliki endowment fund senilai Rp 10 triliun yang bersumber dari donasi atau investasi. Sementara, soal endowment fund awal yang disebutkan oleh Menteri Sri Mulyani, pejabat Kemlu RI itu mengatakan bahwa "sumbernya telah lama dikumpulkan oleh pemerintah Indonesia sejak 1998."

Pada waktu dan kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik-Kemlu RI, Cecep Herawan mengatakan bahwa LDKPI akan menginvestasikan dana yang ada dengan suku bunga 6 persen.

"Dengan begitu, dalam satu tahun ada dana yang disiapkan Rp 600 miliar. Angka kasar bisa mencapai hingga Rp 700 - 800 miliar per tahun dengan suku bunga 7-8 persen," jelas Cecep.

"Dan semua dana akan bersumber dari investasi, sehingga tidak lagi membebani APBN yang dialokasikan untuk masing-masing kementerian pengelola, dan dana dikelola secara mandiri," lanjutnya.

Soal mekanisme checks and balances serta transparansi arus keuangan, Cecep menjelaskan bahwa "semuanya akan berkoordinasi dengan DPR-RI selaku pengesah anggaran negara dan Badan Pemeriksa Keuangan RI. LDKPI juga akan memiliki pemeriksa keuangan internal atau Satuan Pemeriksaan Keuangan," jelasnya.

Baca selengkapnya »

Ternyata Gugus Tugas Covid-19 Sudah Produksi Mandiri APD

item-thumbnail

Pemerintah menunjukkan kemandiriannya dalam menangani COVID-19. Hal ini terbukti dengan pengadaan alat-alat kesehatan produksi dalam negeri untuk menangani pandemi virus corona di Indonesia.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Bakti Adisasmito mengungkapkan, alat pelindung diri (APD) kini dapat diproduksi dalam negeri. Produksi dapat dilaksanakan atas kerja sama dengan berbagai sektor.

"Ini adalah contoh bahwa dalam waktu beberapa minggu, akhirnya setelah diskusi dengan multisektor, akhirnya kita bisa menemukan bahan baku asli Indonesia. Produksi dalam negeri untuk produksi APD coverall dan gown," kata Wiku saat memeberikan pemaparan di hadapan Presiden Jokowi di Kantor Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Jakarta, Rabu (10/6).

Baca selanjutnya:

Baca selengkapnya »

Presiden Jokowi Pamerkan Alat Kesehatan Karya Anak Bangsa untuk Tangani Covid-19

item-thumbnail
Sebanyak 55 produk konsorsium hasil riset dan inovasi anak bangsa diluncurkan pada hari Rabu (20/5) oleh Presiden Joko Widodo. Produk-produk tersebut ditujukan untuk mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, terdapat sembilan produk unggulan yang beberapa di antaranya telah melalui uji klinis dan siap diproduksi secara massal.

Sebanyak tiga produk ventilator diperlihatkan oleh Presiden dalam video tersebut. Dua di antaranya dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan (masing-masing) PT Len Industri dan PT Dharma Polimetal yang sudah siap diproduksi. Sementara satu ventilator lainnya merupakan hasil pengembangan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang telah melalui uji klinis dan siap diproduksi sebanyak 1.000 unit.

Selain ventilator, ada pula RT-PCR test kit yang sudah dapat diproduksi sebanyak 100.000 unit dan dikembangkan oleh PT Bio Farma serta alat uji cepat (rapid test) yang merupakan pengembangan dari PT Hepatika Mataram, BPPT, Universitas Airlangga, serta Universitas Gadjah Mada yang juga siap diproduksi sebanyak 1.000 unit.

Presiden mengharapkan agar karya-karya dan riset yang dilakukan tak berhenti di laboratorium dan hanya berhenti sebagai purwarupa saja. Riset-riset tersebut harus berbuah dan mampu berlanjut hingga tahap produksi massal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan bahkan diekspor ke mancanegara.

#BungJubir

www.presidenri.go.id

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=146522346924407&id=101768734733102
Baca selengkapnya »

Holding Asuransi Segera Dibentuk Bulan Ini

item-thumbnail
ilustrasi
INDONESIA: NEXT SUPERPOWER -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan pembentukan holding asuransi bisa terealisasi di bulan ini. Untuk saat ini, holding bagi perusahaan asuransi BUMN akan dipimpin oleh PT Bahana Pembinaan Usaha. (more)

“Yang kami sampaikan, bahwa pembentukan holding ini sudah hampir final. Jadi pada Februari 2020 ini holding asuransi akan berdiri,” kata Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo, di Jakarta, Rabu (5/2).

Selain Bahana, perusahaan asuransi lain yang bakal melebur dalam holding ini adalah Jasa Raharja, Jasindo, Askrindo dan Jamkrindo. Kehadiran holding asuransi diharapkan bisa memperkuat transformasi dari sisi keuangan, manajemen risiko, pengelolaan investasi dan produk.

“Serta dari sisi perhitungan aktuaria supaya ke depan tidak terulang lagi (masalah) produk seperti Jiwasraya Saving Plan, yang memiliki investasi saham gorengan,” tambahnya.

Ke depan, pihaknya akan terus memantau dan mengeluarkan kebijakan baru dalam pembentukan holding ini. Nantinya, akan ada fungsi pengelolaan portofolio investasi, manajemen risiko serta kepatuhan untuk menghindari masalah investasi di Jiwasraya.

“(Holding Asuransi) kan digunakan sebagai kendaraan untuk transformasi asuransi secara keseluruhan,” ujarnya.
Baca selengkapnya »

Wow, Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Mutiara Terbesar di Dunia

item-thumbnail
ilustrasi


INDONESIA: NEXT SUPERPOWER -- Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyebut Indonesia berpotensi besar menjadi penghasil mutiara nomor satu di dunia. (sumber)

Dengan catatan, masyarakat dan semua pemangku kepentingan harus komitmen menjaga kebersihan pantai dan laut.

Hal itu dikemukakan Edhy saat meninjau festival mutiara "Indonesia Pearl Festival (IPF) ke-8 yang berlangsung 21 - 24 November 2019 di Atrium Lippo Mall Kemang Jakarta Selatan.

"Saya melihat sendiri banyak kekayaan alam kita yang belum kita optimalkan. Dulu Indonesia, yang namanya mutiara ini kita adalah rajanya di dunia," ujarnya di Jakarta, Minggu (24/11/2019).

Menurut dia, saat ini Indonesia berada di posisi nomor 5 penghasil mutiara terbesar di dunia. Padahal, wilayah laut Indonesia sangat luas dan jumlah pulau juga mencapai sekitar 17.000 pulau.

"Berbudidaya mutiara ini pasti berhubungan dengan pantai dan laut yang bersih. Saya yakin Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk bisa menjadi nomor 1 di dunia," tandasnya.

IPF terselenggara atas kerja sama KKP bersama DWP KKP, Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi), dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Kegiatan yang mengusung tema “The Marvelous Indonesian South Sea Pearl” ini mengangkat keunikan serta keindahan Provinsi Sulawesi Utara dan Bunaken yang merupakan wilayah potensi budidaya dan produksi kerang mutiara.

Menurut Edhy, Sulawesi Utara merupakan daerah strategis. Selain dekat dengan perbatasan laut utara juga punya daya tarik yang luar biasa sehingga jadi salah satu provinsi yang menjadi fokus pemerintahan saat ini untuk dikembangkan.

"Ada 10 destinasi wisata (prioritas), salah satunya ada di Sulawesi Utara. Mudah mudahan itu nanti yang akan mendorong industri mutiara kita di sana," tuturnya.

Menteri Edhy juga berterimakasih kepada pelaku usaha budidaya dan perhiasan mutiara yang masih setia menekuni bisnis mutiara untuk menguatkan industri mutiara. Menurutnya, presiden telah memberi mandat untuk mendorong budidaya di sektor perikanan, termasuk juga mutiara.

Untuk itu, kata dia, KKP akan menjadi pembina dan mitra yang mencari jalan keluar bagi solusi-solusi yang selama ini belum selesai. "Kami akan membuka diri, kami juga akan terbuka menerima masukan supaya industri mutiara ini bisa berkembang," tegasnya.

Sementara itu, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Agus Suherman mengatakan, IPF kali ini mengusung pesona mutiara laut selatan Indonesia (Indonesian South Sea Pearl) dari tiram Pinctada maxima hasil alam maupun hasil budidaya.

Dia mengungkapkan, sumber mutiara laut selatan ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia di antaranya Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sumatera Barat.

Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) KKP Iis Edhy Prabowo menambahkan, mutiara laut selatan Indonesia berkontribusi 50% dari produksi South Sea Pearl dunia.

"Adalah PR kita bersama bagaimana agar dunia Internasional itu mengetahui bahwa mutiara terbaik itu berasal dari Indonesia, sehingga diharapkan potensi produksi mutiara menjadi penopang ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat," ucapnya.
Baca selengkapnya »

Cara Muhadjir Effendy Jadikan Indonesia Negara Super Power

item-thumbnail
ilustrasi
INDONESIA: NEXT SUPERPOWER -- Menteri Kebudayaan dan Pendidikan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mendorong Indonesia menjadi negara super power kebudayaan. Menurutnya, hal ini untuk menunjukan Indonesia dapat diperhintungkan dunia internasional.

"Itu makanya kita betul-betul mendorong force agar kebudayaan Indonesia ini segera berkembang sedemikian rupa sehingga bisa dihitung, bisa diakui kekuatan kita sebagai super power kebudayaan seperti yang disebut oleh salah satu UNESCO itu bisa terealisasi," kata Muhadjir, usai melepas Pawai Kedigdayaan Nusantra, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (13/10/2019).

Salah hal yang mendorong Indonesia menjadi negara super power kebudayaan menurut Muhadjir adalah gelaran Pekan Kebudayaan Nasional. Dia mengatakan akan terus meningkatkan budaya Indonesia yang memiliki watak khas.

"Oh iya pastilah, akan terus kita tingkatkan, kita kapitalisasi, betul-betul menjadi kekuatan yang bisa diandalkan Indonesia ini kekuatan budaya. Sehingga amanah trisakti ya, jadi saya kira sangat tepat, saya kira kebudayaan itu harus betul-betul memiliki watak yang khas, kepribadian tertentu, untuk bisa hadir kuat di level dunia. Kalau tidak ada ciri khas, tidak kuat, tidak ada karakter yang kuat, saya kira kebudayaan akan tidak bisa dihitung atau tidak akan dihitung dalam percaturan dunia," ujaranya.

Muhadjir lalu menjawab alasan baru digelarnya Pekan Kebudayaan Nasional pada tahun ini. Dia berharap Pekan Kebudayaan Nasional yang dijadikan agenda rutin pada tahun berikutnya lebih maksimal. (sumber)
Baca selengkapnya »

Indonesia Diprediksi Salah Satu Negara yang akan Menguasai Dunia di 2050

item-thumbnail
ilustras
INDONESIA: NEXT SUPERPOWER -- Waktu era "cold war," ada dua "superpower" di dunia, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Negara beruang merah kemudian pecah pada tahun 1991, dan semenjak itu sampai sekarang hanya "paman sam" satu satunya "superpower" dunia.

Apakah Amerika Serikat akan tetap sebagai "superpower" dunia pada tahun 2050 mendatang? Jawabnya sangat mengejutkan, ternyata TIDAK ! (baca selanjutnya)
Baca selengkapnya »

UNESCO Akui Indonesia Negara Super Power

item-thumbnail
ilustrasi


INDONESIA: NEXT SUPERPOWER -- Indonesia disebut-sebut sebagai negara yang super power (berkekuatan besar) oleh UNESCO. Badan pendidikan, keilmuwan dan kebudayaan dunia tersebut memberikan sebutan pada Indonesia bukan tanpa alasan sebab menurut badan yang merupakan bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa itu menyebut Indonesia sebagai negara super power dalam bidang budaya. Ungkapan itu disampaikan oleh UNESCO saat Sidang Umum UNESCO ke-39 di Paris, Prancis yang berlangsung pada akhir Oktober hingga 14 November yang lalu. Dalam sidang ini pula Indonesia terpilih menjadi Dewan Eksekutif UNESCO periode 2017-2021.

Sebagaimana diberitakan ANTARA (6/11) penyebutan Indonesia sebagai negara super power dalam bidang budaya tersebut disampaikan oleh Asisten Direktur Jendral UNESCO Bidang Budaya Fransesco Bandarin kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy. "Tidak ada rasanya negara di dunia mana pun yang punya warisan budaya sekaya Indonesia maupun sebanyak warisan budaya tidak benda seperti Indonesia," ujar Mendikbud.

Menurutnya, pengakuan UNESCO itu menyebutkan bahwa Indonesia memang memiliki keberagaman budaya dan peninggalan yang sangat besar dan banyak. Sehingga hal ini mendorong Indonesia sendiri untuk melakukan inventarisasi dan langkah-langkah penyelamatan maupun perawatan terhadap warisan budaya tak benda di Indonesia. (baca selanjutnya)
Baca selengkapnya »

Indonesia: The Next Super Power

item-thumbnail
Indonesia: New Superpower
INDONESIA: NEXT SUPERPOWER -- While we talk about the leading power in Asia, in the mind of international relations expert should be China and India. China and India are projected to become dominant the world economy and politics. However, the other third giant of Asia that also can be dominant in the Asia Pacific region is Indonesia. The prominent US journal foreign Policy uses the heading of “The Indonesian Tiger” written by Joshua Keating (2010).

He argues with their economic achievement, Indonesia in the future will become the world’s first Muslim and democratic super power. As a Muslim country with the democracy system and the open economic miracle, Indonesia future will be dominant in Islam and West dialogue, and indeed in the relationship between Asia and Western countries. (more)
Baca selengkapnya »
[OLDERLINK]-->
Beranda