Sejarah Mesir pada masa Ottoman (Utsmaniyah) menunjukkan bahwa wilayah negara itu pernah jauh melampaui batas-batas modernnya. Di bawah kekuasaan Dinasti Muhammad Ali Pasha pada abad ke-19, Mesir tidak hanya menguasai Lembah Nil, tetapi juga membentang jauh ke selatan hingga Sudan dan pesisir Laut Merah Afrika.
Secara formal, Mesir merupakan provinsi semi-otonom Kekaisaran Ottoman. Namun dalam praktiknya, para penguasa Mesir menjalankan kebijakan ekspansi yang agresif, menjadikan Kairo sebagai pusat kekuatan regional di Afrika Timur Laut dan Laut Merah.
Ekspansi paling signifikan terjadi pada paruh pertama abad ke-19. Pasukan Mesir bergerak menyusuri Sungai Nil dan menaklukkan Sudan, yang kemudian diintegrasikan secara administratif dan militer ke dalam wilayah kekuasaan Mesir.
Wilayah Sudan pada masa itu mencakup area yang sangat luas, dari Nubia hingga wilayah Darfur dan Kordofan. Dengan penguasaan Sudan, wilayah Mesir praktis bertambah lebih dari dua kali lipat dibandingkan Mesir modern saat ini.
Selain Sudan, pengaruh Mesir juga menjangkau wilayah pesisir Afrika Timur. Ekspedisi militer dan administratif Mesir mencapai sebagian wilayah Eritrea modern, khususnya di sekitar Massawa dan pesisir Laut Merah.
Di kawasan Tanduk Afrika, Mesir juga memiliki pengaruh terbatas di sebagian pantai Somalia utara. Kehadiran ini tidak selalu berupa kontrol langsung penuh, tetapi cukup kuat untuk menempatkan wilayah tersebut dalam orbit kekuasaan Mesir Ottoman.
Jika seluruh wilayah ini digabungkan, luas Mesir pada masa ekspansi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 3,8 hingga 4 juta kilometer persegi. Angka ini mencakup Mesir inti, Sudan, serta wilayah pesisir Eritrea dan Somalia.
Dengan luas sebesar itu, Mesir pada abad ke-19 menjadi salah satu entitas teritorial terbesar di dunia. Wilayahnya bahkan melampaui luas sejumlah negara besar modern.
Sebagai perbandingan, India saat ini memiliki luas sekitar 3,29 juta kilometer persegi. Artinya, Mesir pada masa Ottoman akhir dan Dinasti Muhammad Ali secara teritorial lebih luas dibandingkan India modern.
Perbedaan ini cukup signifikan dan menempatkan Mesir saat itu dalam kategori negara raksasa, sejajar dengan kekaisaran-kekaisaran besar dunia pada masanya.
Namun, luas wilayah tersebut tidak sepenuhnya stabil. Kontrol Mesir atas wilayah selatan sangat bergantung pada kekuatan militer dan kondisi politik internal Kekaisaran Ottoman serta intervensi kekuatan Eropa.
Memasuki akhir abad ke-19, Inggris mulai memainkan peran dominan di Mesir dan Sudan. Kepentingan London terhadap Terusan Suez dan jalur perdagangan global mengubah peta kekuasaan di kawasan Nil.
Pada 1899, Inggris menetapkan sistem pemerintahan bersama yang dikenal sebagai Anglo-Egyptian Sudan. Secara hukum, Sudan diperintah bersama oleh Inggris dan Mesir, meskipun kekuasaan nyata berada di tangan Inggris.
Sejak saat itu, hubungan Sudan dengan Mesir mulai berubah dari integrasi langsung menjadi entitas administratif yang terpisah. Meski Kairo tetap mengklaim Sudan sebagai bagian historis dari Mesir, kendali efektifnya semakin terbatas.
Setelah Perang Dunia II, tuntutan kemerdekaan Sudan semakin menguat. Tekanan internasional dan dinamika regional membuat status Sudan tidak lagi dapat dipertahankan sebagai bagian dari Mesir.
Pemisahan resmi terjadi pada 1 Januari 1956, ketika Sudan memproklamasikan kemerdekaannya sebagai negara berdaulat. Sejak saat itu, Sudan sepenuhnya terpisah dari Mesir, baik secara politik maupun administratif.
Dengan kemerdekaan Sudan, Mesir kehilangan sebagian besar wilayah selatannya. Luas negara itu menyusut drastis menjadi sekitar satu juta kilometer persegi, mendekati bentuk geografis yang dikenal saat ini.
Pemisahan ini menandai berakhirnya era Mesir sebagai kekuatan teritorial lintas Afrika. Fokus negara kemudian beralih dari ekspansi wilayah ke konsolidasi politik dan pembangunan nasional.
Meski demikian, memori tentang Mesir yang pernah membentang hingga jantung Afrika tetap hidup dalam narasi sejarah dan nasionalisme. Masa itu sering dipandang sebagai puncak pengaruh geopolitik Mesir.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa Mesir pernah menjadi negara yang secara wilayah lebih luas dari India. Namun perubahan zaman, kolonialisme, dan proses dekolonisasi akhirnya membentuk Mesir menjadi negara dengan batas modern yang jauh lebih kecil.


Tidak ada komentar
Posting Komentar