Ketua Majelis Syura (Parlemen) Yaman, Dr. Ahmed Obaid Bin Dagher, menegaskan bahwa Provinsi Hadramaut dan Al-Mahra memiliki hak penuh untuk mengelola urusan internalnya sendiri. Penegasan ini disampaikan dalam sebuah pertemuan resmi yang membahas dinamika politik dan keamanan terkini di Yaman.
Menurut Bin Dagher, pengelolaan pemerintahan dan keamanan di Hadramaut dan Al-Mahra harus berlangsung tanpa intervensi langkah-langkah koersif. Ia menolak segala bentuk upaya pemaksaan kehendak atau penciptaan fakta politik melalui kekuatan di luar kerangka negara.
Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan keamanan di kedua provinsi tersebut sebagai bagian integral dari keutuhan negara. Hadramaut dan Al-Mahra dinilai memiliki karakter dan dinamika sosial yang khas, sehingga membutuhkan pendekatan yang menghormati kekhususan lokal.
Bin Dagher juga menyoroti keharusan menghormati kehendak masyarakat setempat. Menurutnya, aspirasi warga Hadramaut dan Al-Mahra harus menjadi dasar utama dalam setiap kebijakan, selama tetap berada dalam bingkai negara Yaman yang bersatu dan institusi yang sah.
Dalam pernyataannya, Ketua Majelis Syura menegaskan bahwa penghormatan terhadap kekhususan daerah tidak bertentangan dengan konsep negara kesatuan. Justru, hal tersebut dipandang sebagai elemen penting dalam memperkuat legitimasi negara dan mencegah konflik horizontal.
Pada kesempatan yang sama, Bin Dagher menyampaikan apresiasi kepada Kerajaan Arab Saudi. Ia memuji sikap Riyadh yang dinilai cepat dan responsif dalam menyikapi pergerakan militer transisi yang dianggap menyimpang dari legitimasi konstitusional.
Arab Saudi disebut merespons secara sigap permintaan Presiden Dewan Kepemimpinan Presidensial, Dr. Rashad Mohammed Al-Alimi. Langkah tersebut dipandang sebagai faktor penting dalam mencegah eskalasi situasi keamanan di wilayah selatan.
Bin Dagher juga menyambut kesiapan Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah dialog Selatan-Selatan. Ia menilai forum ini sebagai peluang strategis untuk membuka jalan bagi pendekatan nasional yang inklusif dalam menangani isu selatan.
Menurutnya, dialog tersebut dapat menjadi fondasi bagi solusi politik yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa keberhasilan dialog sangat bergantung pada keterlibatan luas berbagai komponen dan tokoh selatan tanpa pengecualian.
Ketua Majelis Syura menegaskan bahwa isu selatan merupakan persoalan yang adil dan sah. Namun, ia mengingatkan bahwa isu ini tidak boleh direduksi atau dimonopoli oleh satu partai atau kelompok politik tertentu.
Ia menilai bahwa representasi isu selatan harus mencerminkan aspirasi seluruh masyarakat selatan. Pendekatan yang inklusif dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mencegah fragmentasi dan memperkuat persatuan nasional.
Bin Dagher menegaskan bahwa penyelesaian isu selatan harus tetap berada dalam kerangka negara Yaman dan proyek nasionalnya. Ia menolak segala upaya yang mencoba memisahkan isu tersebut dari konteks negara secara keseluruhan.
Dalam bagian lain pernyataannya, Bin Dagher menyoroti peran internasional, khususnya Amerika Serikat. Ia menyebut Washington memiliki peran penting dalam mendukung legitimasi Yaman dan menjaga stabilitas kawasan.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan internasional dalam mendorong tercapainya perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Perdamaian tersebut, menurutnya, harus mampu menjawab harapan dan penderitaan rakyat Yaman.
Bin Dagher memuji sikap Amerika Serikat yang secara konsisten mendukung legitimasi pemerintah Yaman. Dukungan terhadap persatuan, keamanan, dan kedaulatan Yaman disebut sebagai pesan politik yang signifikan.
Dari pihak Amerika Serikat, Duta Besar AS menegaskan kembali dukungan negaranya terhadap Yaman dan legitimasi konstitusionalnya. Washington menyatakan komitmen untuk terus bekerja sama dengan mitra regional dan internasional.
Duta Besar AS juga menekankan pentingnya koordinasi internasional dalam mendukung proses perdamaian. Upaya bersama dinilai krusial untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di Yaman.
Pertemuan tersebut mencerminkan upaya diplomatik yang terus berjalan untuk menjaga keseimbangan politik di tengah situasi yang masih rapuh. Dialog antara aktor domestik dan internasional dipandang sebagai elemen kunci dalam fase transisi ini.
Hadir dalam pertemuan itu dua anggota Majelis Syura, yakni Mayor Jenderal Haidar Al-Hubaeili dan seorang insinyur yang turut mendampingi jalannya diskusi. Kehadiran mereka menegaskan bobot institusional pertemuan tersebut.
Secara keseluruhan, pernyataan Bin Dagher mencerminkan garis politik yang menekankan otonomi daerah, dialog inklusif, dan dukungan internasional. Pendekatan ini dipandang sebagai upaya menjaga persatuan Yaman di tengah kompleksitas konflik yang belum sepenuhnya usai.


Tidak ada komentar
Posting Komentar