Presidential Leadership Council (PLC) Yaman kini menghadapi dilema strategis. Tanpa kemampuan udara yang memadai, keseimbangan kekuatan antara pemerintah dan milisi Houthi tetap timpang. Kekerasan akan terus berulang karena tidak ada pihak yang dominan di langit Yaman.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan udara menentukan hasil konflik di Yaman. Pada tahun 1979, pada era Presiden Jimmy Carter, Amerika Serikat, Yaman (YAR) pernah dibelikan oleh Arab Saudi sejumlah peralatan angkatan udara senilai 390 juta dolar AS, termasuk 12 pesawat tempur F-5E. Bantuan itu dimaksudkan untuk menyeimbangkan kekuatan melawan invasi PDRY.
Bantuan itu juga mencakup rudal AIM-9 Sidewinder, kendaraan lapis baja M113, tank M60, serta pesawat angkut C-130. Paket ini mengubah YAR menjadi kekuatan yang lebih seimbang terhadap agresi dari Yaman Selatan, yang saat itu didukung Soviet.
Saat ini, PLC Yaman menghadapi tantangan serupa. Tanpa pesawat tempur yang memadai, milisi Houthi yang menguasai wilayah luas di utara tetap memiliki keunggulan strategis. Upaya perdamaian sulit dicapai jika keseimbangan kekuatan tidak ada.
Namun, opsi modern kini terbuka. Banyak negara menawarkan pesawat tempur murah untuk ekspor, termasuk versi JL-9 (versi ekspor disebut FTC-2000 Mountain Eagle (Shanying), yang dilengkapi dengan rudal dan kemampuan drone sebagai radar. Pesawat semacam ini relatif terjangkau dan dapat mengubah dinamika konflik dengan cepat.
Kemampuan ini akan memungkinkan PLC mengendalikan wilayah udara dan menekan gerakan Houthi. Dominasi udara juga memberi keamanan lebih bagi pasukan darat dan memperkuat posisi negosiasi politik di meja internasional.
Seperti di Somalia, keberadaan drone canggih buatan Turki telah memberi keunggulan strategis melawan kelompok teroris. Teknologi semacam ini memungkinkan negara yang sebelumnya terbatas secara militer untuk mendominasi medan tempur.
PLC bisa mencontoh model itu. Pesawat tempur JL-9 versi ekspor, dipadu dengan rudal modern dan drone, akan menciptakan sistem pertahanan udara yang tangguh. Hal ini memungkinkan Yaman mengurangi ketergantungan pada dukungan asing secara langsung.
Tanpa kemampuan tersebut, konflik Yaman akan terus stagnan. Houthi tetap memiliki keunggulan atas PLC dan kekerasan akan berulang tanpa penyelesaian politik. Pesawat tempur menjadi alat penting untuk menghentikan pola kekerasan ini.
Selain itu, memiliki pesawat tempur murah membuka peluang untuk modernisasi angkatan udara secara bertahap. PLC dapat melatih pilot, mengembangkan doktrin udara, dan membangun ekosistem industri pertahanan lokal secara berkelanjutan.
Dalam konteks geopolitik, kemampuan udara yang memadai juga memberi PLC posisi tawar yang lebih kuat di forum internasional. Negara-negara donor dan mediator akan lebih serius melihat Yaman sebagai mitra yang setara dalam penyelesaian konflik.
Penerapan teknologi pesawat tempur dan drone tidak hanya soal serangan, tetapi juga pertahanan dan pengawasan. Hal ini akan memungkinkan PLC memantau wilayah strategis secara real-time, mengantisipasi serangan, dan meningkatkan keamanan sipil.
Sejarah bantuan militer 1979 menunjukkan bahwa kekuatan udara dapat mengubah hasil konflik secara signifikan. Sama seperti F-5E yang menyeimbangkan YAR melawan PDRY, pesawat modern akan menyeimbangkan PLC melawan Houthi.
Investasi pesawat tempur murah juga realistis secara ekonomi. Berbeda dengan jet tempur mahal atau generasi terbaru, pesawat seperti JL-9 ekspor memungkinkan Yaman memperoleh kemampuan udara tanpa membebani anggaran.
Selain itu, integrasi sistem rudal dan drone memberikan keunggulan ganda. Pesawat tidak hanya menyerang, tetapi juga melakukan intelijen udara, meningkatkan efektivitas operasi tempur secara keseluruhan.
PLC memiliki peluang untuk memanfaatkan teknologi ini sebelum konflik semakin memanjang. Waktu menjadi faktor penting, karena setiap bulan tanpa kemampuan udara berarti hilangnya kendali strategis atas wilayah.
Penerapan strategi udara yang modern akan memberi efek psikologis. Milisi Houthi dan kelompok bersenjata lain akan menghadapi tekanan mental, mengetahui bahwa mereka menghadapi kekuatan udara yang tangguh dan sulit ditembus.
Selain aspek militer, kemampuan udara juga berdampak pada ekonomi. Wilayah yang aman dari serangan udara dapat memulihkan perdagangan, transportasi, dan aktivitas ekonomi yang selama ini terhambat oleh konflik.
Pelajaran sejarah dari YAR 1979 dan pengalaman Somalia modern menegaskan satu hal: kekuatan udara adalah penentu dominasi strategis di medan konflik. Tanpa itu, kekerasan akan terus berulang.
Jika PLC Yaman diberikan izin dan dukungan untuk memperoleh pesawat tempur murah, keseimbangan kekuatan bisa tercipta. Konflik tidak lagi hanya tentang dominasi darat, tetapi juga udara, yang memungkinkan perdamaian lebih realistis dicapai.
Secara keseluruhan, pengadaan pesawat tempur murah dan sistem drone adalah langkah kritis bagi PLC Yaman. Ini bukan soal agresi, tetapi tentang menciptakan stabilitas, mengurangi kekerasan, dan memberi Yaman peluang untuk mengendalikan nasibnya sendiri.


Tidak ada komentar
Posting Komentar